Yayasan Kawan Lama dan Perjalanan Tenun Dayak Iban: Dari Kapuas Hulu ke Panggung Algorithm: Universal Language

Yayasan Kawan Lama dan Perjalanan Tenun Dayak Iban: Dari Kapuas Hulu ke Panggung Algorithm: Universal Language

Artikel, Keberlanjutan
13 Juli 2026

Sejak beberapa tahun terakhir, Yayasan Kawan Lama, yang dinaungi oleh Kawan Lama Group, konsisten mendampingi komunitas penenun Dayak Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, melalui program Aram Bekelala Tenun Iban. Program ini digagas dengan satu keyakinan sederhana: pelestarian wastra tradisional hanya akan bertahan jika berjalan beriringan dengan kemandirian ekonomi para penenunnya, terutama perempuan.

Komitmen jangka panjang itu kini membuahkan hasil yang semakin nyata. Karya Tenun Dayak Iban binaan Yayasan Kawan Lama baru saja tampil di panggung perayaan 10 tahun berkarya desainer Wilsen Willim bertajuk “Algorithm: Universal Language”, pada 8 Juli 2026 di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan. Kehadirannya di antara 60 koleksi busana yang ditampilkan menjadi bukti bahwa hasil pemberdayaan komunitas dapat berdialog setara dengan bahasa mode kontemporer, sekaligus menjadi babak terbaru dari perjalanan panjang Yayasan Kawan Lama dalam melestarikan budaya tenun sambil memberdayakan ekonomi perempuan penenun di pelosok Kalimantan Barat.

 

Aram Bekelala Tenun Iban: Program Pemberdayaan Perempuan Penenun

Aram Bekelala Tenun Iban dijalankan oleh Yayasan Kawan Lama di empat dusun di Kapuas Hulu dengan tiga fokus utama: penguatan teknik menenun, regenerasi penenun muda, serta pengembangan motif dan pewarna alami berbasis sumber daya lokal. Program ini melanjutkan kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) melalui pendekatan Training of Trainers (ToT), di mana puluhan penenun perempuan dilatih menjadi fasilitator lokal yang kemudian menularkan keterampilannya kepada ratusan penenun lain di komunitas mereka.

Pendekatan berbasis komunitas ini terbukti efektif. Hingga pertengahan 2025, program telah menjangkau lebih dari 100 penenun aktif, sebuah pencapaian yang mencerminkan kekuatan model pemberdayaan dari dan untuk komunitas yang menjadi ciri khas Aram Bekelala Tenun Iban.

Salah satu inovasi penting dalam program ini adalah eksplorasi pewarna alami dari tanaman lokal seperti ketapang, gambut, dan daun kratom. Sejak awal 2025, upaya ini berhasil memperluas variasi warna tenun dari enam menjadi 69 warna yang bersumber dari 23 jenis tanaman lokal, sekaligus memperkuat identitas khas Tenun Dayak Iban yang tidak ditemukan di daerah lain.

 

Dampak Ekonomi: Pendapatan Penenun Meningkat hingga 360%

Yang membuat program ini istimewa bukan hanya soal pelestarian budaya, melainkan juga dampak ekonominya yang nyata. Dalam satu tahun pelaksanaan, Aram Bekelala Tenun Iban mencatat peningkatan rata-rata pendapatan penenun hingga 360%, didorong oleh pelatihan intensif yang mencakup teknik tenun, pewarnaan alami, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran.

Dampak ini pun dirasakan langsung oleh para penenun binaan. Kristina Anyun, salah satu peserta program, menceritakan bagaimana pelatihan yang diikutinya tidak hanya meningkatkan kualitas tenunan, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam mengelola dan memasarkan hasil karya secara mandiri.

Selain aspek ekonomi, program ini juga menyentuh sisi sosial dengan mendorong akses pendidikan dasar dan wawasan budaya bagi anak-anak penenun, serta memastikan regenerasi dan keberlanjutan tradisi menenun bagi generasi berikutnya.

 

Dari Panggung Lokal ke Kancah Nasional dan Internasional

Yayasan Kawan Lama telah membawa Tenun Dayak Iban binaannya melalui sejumlah panggung bergengsi. Setelah tampil dalam pergelaran "LIMINAL" bersama Cita Tenun Indonesia di Jakarta Fashion Week 2026 pada akhir Oktober 2025, karya tenun ini juga mendapat pengakuan di Fashion Nation XIX hingga World Expo Osaka 2025. Kini, pencapaian tersebut berlanjut lewat kolaborasi dengan Wilsen Willim di “Algorithm: Universal Language”, koleksi perayaan satu dekade karier sang desainer, di mana Tenun Dayak Iban tampil berdampingan dengan tiga wastra nusantara lainnya (Tenun Sutra Garut, Songket Jembrana Bali, dan Songket Minang dari Halaban) dalam siluet kontemporer bernuansa rebel dan punk.

Rentetan panggung ini membuktikan bahwa hasil pemberdayaan Yayasan Kawan Lama bukan sekadar produk sosial, melainkan karya wastra yang mampu bersaing dan dihargai di industri mode nasional maupun global.

 

Menutup Rantai Nilai: Dari Komunitas ke Pasar Ritel

Bagi Yayasan Kawan Lama, tampil di panggung mode besar bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Untuk memperluas akses pasar, kain Tenun Dayak Iban hasil program ini juga tersedia di Pendopo, rumah bagi lebih dari 300 UMKM di bawah naungan Kawan Lama Group. Model ini memungkinkan setiap pembelian produk tenun tidak hanya mengapresiasi keindahan budaya lokal, tetapi juga berkontribusi langsung pada keberlanjutan komunitas penenun di Kapuas Hulu.

Ke depan, Aram Bekelala Tenun Iban akan terus dilanjutkan sebagai inisiatif jangka panjang Yayasan Kawan Lama, dengan fokus tahun 2026 pada penguatan kualitas desain, eksplorasi pewarna alam baru, serta peningkatan kapasitas pemasaran dan perencanaan bisnis bagi para penenun binaan.

Melalui sinergi lintas sektor bersama desainer, pemerintah daerah, dan ekosistem ritel Kawan Lama Group, Yayasan Kawan Lama menunjukkan bahwa pelestarian wastra tradisional dan pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan dengan inovasi mode kontemporer, sehingga membuka jalan bagi ekonomi sirkular yang inklusif dan berkelanjutan bagi para penenun di Indonesia.