Yayasan Kawan Lama Tingkatkan Pendapatan Penenun Dayak Iban hingga 360% melalui Program Aram Bekelala Tenun Iban

Yayasan Kawan Lama Tingkatkan Pendapatan Penenun Dayak Iban hingga 360% melalui Program Aram Bekelala Tenun Iban

Artikel, Keberlanjutan
27 Februari 2026

Berangkat dari potensi tenun Dayak Iban sebagai komoditas unggulan lokal di Kapuas Hulu, program Aram Bekelala Tenun Iban yang diinisiasi oleh Yayasan Kawan Lama hadir sebagai upaya pemberdayaan perempuan yang menghubungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi lokal.

Program ini dijalankan di empat dusun dengan fokus pada peningkatan kapasitas perempuan penenun melalui pelatihan terstruktur, pengembangan produk tenun berbasis nilai budaya, serta pembukaan akses pasar yang berkelanjutan guna memperkuat kemandirian ekonomi komunitas.

 

Pendapatan Meningkat hingga 360%

Dalam satu tahun pelaksanaan, Aram Bekelala Tenun Iban mencatat peningkatan kesejahteraan yang signifikan, dengan rata-rata pendapatan penenun meningkat hingga 360%. Capaian ini didorong oleh pelatihan intensif dan pendampingan berkelanjutan yang mencakup penguatan teknik tenun dan pewarnaan alami, literasi keuangan, serta strategi pemasaran. 

Program ini juga mendorong penenun menjadi fasilitator lokal melalui Training of Trainers (ToT), sekaligus melibatkan generasi muda dalam edukasi budaya dan lingkungan berbasis lokal untuk menjaga keberlanjutan tradisi tenun Dayak Iban.

Tasya Widyakrisnadi, Ketua Yayasan Kawan Lama menyampaikan, “Program Aram Bekelala Tenun Iban dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian komunitas penenun. Melalui peningkatan kapasitas, pendampingan berkelanjutan, serta pembukaan akses pasar, kami ingin memastikan bahwa pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.”

Sukardi, Wakil Bupati Kapuas Hulu menambahkan, “Program ini membuka ruang bagi perempuan penenun untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi. Tenun Dayak Iban tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sumber penghidupan yang perlu terus dikembangkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.”

Salah satu penenun binaan, Kristina Anyun, merasakan langsung dampaknya. “Kami tidak hanya belajar meningkatkan kualitas tenun, tetapi juga lebih percaya diri dalam mengelola dan memasarkan hasil karya kami. Kini, kami merasa memiliki bekal untuk terus mengembangkan usaha tenun secara mandiri,” ujarnya.

 

Inovasi Produk dan Pengakuan Global

Dari sisi pengembangan produk, program ini mendorong inovasi desain dan pewarnaan alami berbasis nilai budaya Dayak Iban. Tercatat lima motif baru dikembangkan, serta 58 motif tenun terdokumentasi sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya. 

Teknik pewarnaan alami pun diperluas dari enam menjadi 69 variasi warna menggunakan bahan tanaman lokal seperti ketapang, daun kratom, kayu tebelian, dan 20 jenis tanaman lainnya. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas dan daya saing produk, tetapi juga membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru serta pengembangan industri pewarna alam berbasis komunitas.

Karya tenun binaan ini memperoleh pengakuan di tingkat nasional dan internasional melalui partisipasi dalam sejumlah ajang bergengsi, antara lain Fashion Nation XIX, Jakarta Fashion Week 2026, dan World Expo Osaka 2025, sekaligus bekerja sama dengan Cita Tenun Indonesia serta Wilsen Willim. Untuk memperluas jangkauan pasar, program ini mendorong penenun melalui proses kurasi dan penjajakan ke kanal distribusi Pendopo sebagai bagian dari penguatan rantai nilai produk berbasis budaya.

Komitmen Berkelanjutan

Ke depan, Aram Bekelala Tenun Iban akan terus dilanjutkan sebagai inisiatif jangka panjang Yayasan Kawan Lama. Pada tahun 2026, program ini akan berfokus pada penguatan kualitas tenun melalui pengembangan desain dan teknik, eksplorasi pewarna alam baru, serta peningkatan kapasitas pemasaran dan perencanaan bisnis penenun. 

“Pemberdayaan perempuan penenun berbasis budaya kami yakini sebagai fondasi penting dalam menciptakan peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Tasya.